Selamat Datang di Website BEM STAIN Pekalongan. segala informasi ada disini * Selamat Datang di Website BEM STAIN Pekalongan. segala informasi ada disini

Tuesday, August 18, 2015

Biografi Syeh Abdul Muhyi Pamijahan karya kelompok29 TASKA 2015

I.              Sejarah / Riwayat Tokoh
Syeikh Haji Abdul Muhyi lahir di Mataram sekitar tahun 1650 M /1071 H dan dibesarkan oleh orang tuanya di kota Gresik/ Ampel. Dia selalu mendapat pendidikan agama baik dari orang tua maupun dari ulama-ulama sekitar Ampel. Karena ketekunannya menuntut ilmu disertai dengan ibadah disamping kesederhanaan dan kewibawaan yang menempel di dalam diri dia maka tak heran jika teman-teman sebaya selalu menghormati dan menyeganinya.
Pada saat berusia 19 tahun dia pergi ke Aceh/ Kuala untuk berguru kepada Syekh Abdurrauf Singkil bin Abdul Jabar selama 8 tahun yaitu dari tahun 1090-1098H/ 1669 -1677 M. Pada usia 27 tahun dia beserta teman sepondok dibawa oleh gurunya ke Baghdad untuk berziarah ke makam Syeikh Abdul Qodir Al-Jailani dan bermukim di sana selama dua tahun. Setelah itu mereka diajak oleh Syeikh Abdul Rauf ke Makkah untuk menunaikan Ibadah Haji.
Ketika sampai di Baitullah, Syeikh Abdulrauf mendapat ilham kalau diantara santrinya akan ada yang mendapat pangkat kewalian. Dalam ilham itu dinyatakan, apabila sudah tampak tanda-tanda maka Syeikh Abdulrrauf harus menyuruh santrinya pulang dan mencari gua di Jawa bagian barat untuk bermukim di sana.
Suatu saat sekitar waktu ashar di Masjidil Haram tiba-tiba ada cahaya yang langsung menuju Syeikh Abdul Muhyi dan hal itu diketahui oleh gurunya (Syeikh Abdur Rauf) sebagai tanda-tanda tersebut. Setelah kejadian itu, Syeikh Abdurrauf membawa mereka pulang ke Kuala/ Aceh tahun 1677 M. Sesampainya di Kuala, Syeikh Abdul Muhyi disuruh pulang ke Gresik untuk minta restu dari kedua orang tua karena telah diberi tugas oleh gurunya untuk mencari gua dan harus menetap di sana. Sebelum berangkat mencari gua, Syeikh Abdul Muhyi dinikahkan oleh orang tuanya dengan “Ayu Bakta” putri dari Sembah Dalem Sacaparana putra Dalem Sawidak atau Raden Tumenggung Wiradadaha III.

Tak lama setelah pernikahan, dia bersama istrinya berangkat ke arah barat dan sampailah di daerah yang bernama Darma Kuningan. Atas permintaan penduduk setempat Syeikh Abdul Muhyi menetap di Darmo Kuningan selama 7 tahun (1678-1685 M). Kabar tentang menetapnya Syeikh Abdul Muhyi di Darmo Kuningan terdengar oleh orang tuanya, maka mereka menyusul dan ikut menetap di sana.

II.              Konsep Pemikiran Tokoh

Dalam tradisi Tasawuf yang kelak nantinya diikuti oleh pengikutnya, maka Syekh Abdul Muhyi dengan Tarekat yang ditempuhnya ialah tarekat Mu’tabarah Syatariyah ini akan memberi suatu pemikiran tentang ajaran Martabat Alam Tujuh, yang disebut Martabat Alam Tujuh ini adalah sesuatu yang mengajak manusia untuk mengenal dan mendekatkan diri kepada Tuhan (Taqarub Ila Allah). Diantaranya adalah; Ahadiyah, Wahdah, Wahidiyah (tertuju kepada sang khaliq), Alam Arwah, Alam Mitsal, Alam Ajsam (tertuju terhadap Alam), dan Alam Insan (tertuju kepada manusia).
Sejalan dengan konsep wujudiyyat Ibnu ‘Arabi dan al-Jilli di atas, Muhammad bin Fadhlallah al-Burhanpuri mencetuskan konsep wujudiyyat yang dikenal dengan “Martabat alam Tujuh”.Menurutnya, wujud Allah itu untuk dapat dikenal melalui tujuh martabat (tingkatan).
Martabat pertama, adalah martabat al-lata’ayyun yang disebut ahadiyyat, yaitu esensi Tuhan yang mutlak tanpa nama dan sifat, sehingga tak nampak dan tak terkenal siapa pun.
Martabat kedua, adalah martabat al-ta’ayyun al-awwal (penampakan yang pertama) yang disebut wahdat. Penampakan esensi Tuhan pada tingkat ini berupa Hakikat Muhammad (al-haqiqat al-Muhammadiyyat) yang diartikan sebagai ilmu Tuhan mengenai diri-Nya, sifat-Nya, dan alam semesta secara global tanpa pembedaan yang satu dari yang lain.
Martabat ketiga, adalah al-ta’ayyun al-tsani (penampakan kedua) yang disebut wahidiyyat dalam rupa Hakikat Insan (al-haqiqat al-insaniyyat), yakni ilmu Tuhan mengenai diri-Nya, sifat-Nya, dan alam semesta ini secara terinci dan pembedaan yang satu dari yang lain, atas jalan perceraian.
Selanjutnya, martabat keempat, dinamakan ‘alam arwah dan disebut juga Nur Muhammad SAW, yaitu ibarat dari keadaan sesuatu yang halus semata. Ruh Tunggal yang merupakan asal ruh semua makhluk.
Martabat kelima, disebut ‘alam mitsal, yaitu ibarat dari keadaan sesuatu yang halus, yakni diferensiasi dari Nur Muhammad tersebut dalam rupa ruh perorangan, yang dapat ditamsilkan “laut” selaku alam ruh melahirkan dirinya dalam bentuk “ombak” sebagai ‘alam mitsal.
Martabat keenam, disebut sebagai ‘alam ajzam, yaitu alam benda-benda yang kasar, yang tersusun serta berbeda-beda antara yang satu dan yang lainnya.
Martabat ketujuh, adalah martabat insan atau alam paripurna, yang padanya terhimpun segenap martabat yang sebelumnya, sehingga martabat ini disebut tajalli (penampakan) yang kemudian sekali.

III.              Karya

Karya tulis Syeikh Haji Abdul Muhyi yang asli tidak ditemukan lagi. Akan tetapi ajarannya disalin oleh murid-muridnya, di antaranya oleh putra sulungnya sendiri, Syeikh Haji Muhyiddin yang menjadi tokoh tarekat Syattariah sepeninggal ayahnya. Syeikh Haji Muhyiddin menikah dengan seorang putri Cirebon dan lama menetap di Cirebon. Ajaran Syeikh Haji Abdul Muhyi versi Syeikh Haji Muhyiddin ini ditulis dengan huruf pegon (Arab Jawi) dengan menggunakan bahasa Jawa (baru) pesisir. Naskah versi Syeikh Haji Muhyiddin itu berjudul Martabat Kang Pitutu (Martabat Alam Tujuh) dan sekarang terdapat di museum Belanda, dengan nomor katalog LOr. 7465, LOr. 7527, dan LOr. 7705.



DAFTAR PUSTAKA

Ø  https://id.wikipedia.org/wiki/Syekh_AbdulMuhyi
Ø  http://salsilahblog.com/2009/06/syaikh-haji-abdul-muhyi-pamijahan/
Ø  Menyingkap tabir rahasia spiritual Syekh Abdul Muhyi (Wali Pamijahan): menapaki jejak para tokoh sufi Nusantara abad XVII-XVIII, Muhammad Wildan Yahya
Ø  Drs. H. AA. Khaerussalam, Sejarah Perjuangan Syekh Haji Abdul Muhyi Waliyullah Pamijahan, cet XI, (Pamijahan, 2005)
Ø  Prof. Dr. Moh. Ardani, Warisan Intelektual Islam; abd-muhyi (martabat alam tujuh), artikel diluncurkan pada seminar pengaruh Islam terhadap budaya jawa, 31 November 2000

Reaksi: